Kamis, 18 Agustus 2011

Markus 7: 24-30

Bagian Firman Tuhan ini agak unik karena mencantumkan nama ras yang cukup asing bagiku, Siro-Fenesia. Rupanya ini adalah sebuah daerah di dekat Danau Galilea, yang merupakan batas dari Tanah Perjanjian seperti yang tercantum di Perjanjian Lama.
Kisah ini menekankan beberapa hal yang menarik:
1. Yesus ingin menghindari orang Yahudi dengan berjalan menuju ke daerah "Gentiles". Menurut komentar Bob Utley, Mendekati daerah non-Yahudi diharapakan akan mengurangi daya tarikNya yang telah melakukan beberapa mukjizat. Orang-orang Non-Yahudi pada saat itu, kupikir, memiliki self-image yang buruk, akibat cap "tidak kudus", "Bukan pilihan Allah", dll. Dengan gambar diri yang seperti ini, dimungkinkan sekali orang-orang di daerah Danau Galilea ini tidak berani mendekati Yesus.
2. Selain itu, Pernyataan Yesus mengenai Roti yang harus diberikan kepada anak-anak rupanya menunjukkan tujuan utama dan terutama dari Yesus ke dalam dunia ini, untuk memberikan kabar baik kepada kaum Yahudi, pertama-tama. Dengan 'menolak' permohonan sang wanita, Yesus ingin menegaskan kepada khayalak umum yang kemungkinan mengikuti Dia dan merupakan kaum Yahudi, bahwa ia datang pertama-tama bagi Bangsa Yahudi, sehingga ini dengan tegas menunjukkan bahwa Ia adalah Yang Dijanjikan itu.
3. Namun IMAN lagi-lagi menggunggah hati Yesus. Kengototan sang wanita untuk memberikan sepenggal counter argument terhadap pernyataan Yesus rupanay dipandang sebagai sikap yang berkenan di mata Yesus. Keseriusan dan kengototan yang menyertai Imannya membuat Yesuspun tergerak untuk mewujudkan permohonannya.

Jadi, memiliki dan memahami panggilan dan tujuan utama itu penting, namun di tengah perjalanan, kurasa ada momen-momen dimana kita harus sedikit 'fleksible' dalam menentukan langkah, selama itu masih dalam jalur arah tujuan kita. Sangat sulit memang menentukan kriteria jalur arah tujuan, namun biarlah itu menjadi tugas rohkudus dan menjadi bahan diskusi di lain waktu.

Kamis, 04 Agustus 2011

Kembali ke sastra

Waktu tinggal menunjukkan 4 hari menuju kelas pertama di tahun ajaran yang baru, 2011-2012. Persiapan untuk hari pertama sudah aku lakukan, meskipun kurasa belum begitu maksimal. Hati dan pikiran ini terlalu tertambat pada teologi dan filsafat yang tersebar di mana-mana, di area kampus. Dalam beberapa minggu ini aku membenamkan diri ke pemikiran-pemikiran yang membuatku harus mengkerut, bertanya-tanya mengenai hidup ini, sampai akhirnya datang hari ini.

Jurnal Boemipoetra kubaca hari ini. Aku diundang untuk melihat rumah yang dulu pernah aku kunjungi dan kagumi. Memang dasar hati masih berpaut, dengan cepat aku dapat merasakan apa yang dirasakan oleh para awak jurnal ini. Kegeraman hadir dimana-mana, berusaha mendobrak setiap hati dan pikiran mereka yang mulai tertidur oleh alunan dunia yang perlahan membunuh mereka yang tidak sejalan. Ah, biarlah definisi tersebar dimana-mana. Aku sedang mengikuti alunan dari para penulis-penulis itu. Aku kembali bersastra.