Selasa, 19 Juli 2011

Islam dan Kristen

Sejak berakhirnya Semester Pendek di kampus, kegiatan-kegiatan yang sifatnya mengisi amunisi diadakan oleh beberapa bagian atau departemen. Salah satunya adalah seminar mengenai Islamologi. Sang pembawa materi adalah Bapak Bambang Ruseno, seorang lulusan Birmingham University, yang setahuku juga merupakan tempat Jay Smith, seorang apologet, menyelesaikan program doktoralnya. Seminar ini rencananya akan berlangsung selama 5 hari, namun aku undur di hari yang ketiga, ya, dihari ini. Penyebabnya adalah kurang menantangnya sang pembicara. Aku pada awalnya mengharapkan nuansa polemik yang bisa menimbulkan banyak riak di antara pendengar, namun bapak ini memilih untuk menempatkan diri sebisa mungkin di posisi yang seobjektif mungkin. Kritik keras tidak terdengar di 2 hari seminarnya. Ia cenderung berkata "Wah, ini bisa menyinggung perasaan teman-teman muslim" atau "teman-teman muslim pasti tidak akan setuju dengan ini", tanpa memberikan posisinya di isu-isu tertentu. Tapi tentu ini bukan gambaran sepenuhnya dari seminar itu. Penilaian inipun seharusnya ditunda dulu sampai berakhirnya seminar. Aku, harus diakui, terlalu sombong ketika berani memberikan penilaian ini. Yah, aku akan menunggu laporan dari teman-teman yang lain tentang ini.

Isu yang paling memikat hati dan pikiranku berkenaan dengan Islam dan Kristen adalah bagaimana aku, sebagai orang kristen bersikap terhadap perbedaan yang muncul diantara kedua pihak, yang dalam banyak kesempatan malah menimbulkan pertikaian yang saling merusak bahkan menghancurkan. Satu hal yang pasti, dan membuatku sangat tenang adalah keberadaan Yesus di pusat ajaran iman kristen. Yesus datang kedunia untuk memberikan nyawanya bagi mereka yang berdosa. Disini muncul 2 makna penting yang akan sangat bermanfaat ketika diterapkan oleh setiap orang percaya.

Yang pertama adalah bahwa Yesus datang ke dunia bukan untuk menjauhi yang 'kotor' ataupun yang 'tersingkir', namun justru untuk menjangkau mereka! Ini adalah makna yang sangat dalam bagiku. Menurut tradisi Yahudi dan Islam, ketika yang kotor bersentuhan dengan yang bersih, maka yang bersih/suci akan menjadi najis, bukan yang najis menjadi bersih/suci. Ini menyebabkan ada setumpuk batasan yang diterapkan oleh kedua kepercayaan agar kesucian itu tetap menjadi suci. Kekristenan berbeda. Yesus datang untuk bersentuhan, menjamah mereka yang tersingkir: Orang yang secara social dan religius dibuang karena tak layak. Ini sangat bertolak belakang dengan apa yang 'dunia' ajarkan. Ketika dunia menghindari yang kotor, Yesus malah mengundang segenap pengikutnya untuk mendekati dan menjamah yang kotor itu, supaya menjadi bersih. Kebenaran ini membuat kekristenan menjadi sangat relevan ketika diangkat topik penindasan, dan ketidakadilan sosial.

Makna yang kedua adalah KASIH terhadap musuh. Yesus selalu meminta ampun kepada Bapa di surga, agar mereka yang membenci Dia, mendapat ampun dari Bapa. Yesus sangat menyadari adanya pihak-pihak yang membenci Dia, bahkan sampai ingin menyingkirkan Dia dari muka bumi. Namun responNYA terhadap mereka yang membenci Dia sangatlah luar biasa. Ia mengajarkan agar setiap pengikutNYA supaya mengasihi musuh-musuh mereka.

Ketika dikembalikan kepada relasi Islam-Kristen, maka KASIH itu muncul dari pihak kristen. Tak peduli ada berjuta-juta perbedaan yang menciptakan jurang pemisah kepercayaan, namun keberadaan manusia yang memegang kepercayaan yang berbeda itu tak akan sedikitpun diusik. Tak ada istilah kotor ketika berhadapan dengan mereka yang berbeda, karena seorang kristen harusnya menyadari secara penuh bahwa iapun kotor sebelumnya, sampai akhirnya Yesus datang dan turut menjamahnya dan mengundangnya dalam karya Kasih kepada seluruh dunia. Yesus mengasihi dunia adalah inti dari pesan Kristus, maka ia ingin manusia kembali memiliki relasi yang indah denganNYA. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar